Kamis, 29 Desember 2011

SUMUR WELUT 1382, SUMUR TUA DAN PESAPEN

Situs Sumur Welut 1382
Pada bulan Mei Tahun 1382, saat masa kejayaan Majapahit, kisah ini dimulai. Tersebutlah 3 orang saudagar bersahabat yaitu Daeng Paliatan, Sidabutar dan Kartosuryo. Mereka adalah pedagang hasil bumi (semangka, blewa, bengkuwang dan ketela) yang memasok kebutuhan buah buahan dari wilayah Giri (Gresik) ke pasar tradisional di sebuah kota kecil tepi kali Brantas (sekarang Kota Sepanjang), kira kira berjarak 20 km.
Dari tlatah Giri itu, mereka menggunakan kuda beban untuk mengakut hasil bumi saat panen tiba, mereka pulang pergi sehari sampai 3 kali. Berangkat pagi pulang menjelang matahari terbenam. Saat kuda mereka melewati desa sumur welut, yang termasuk kecamatan Lakarsantri – Surabaya sekarang, kuda Daeng Palitan kecapekan dan mulutnya mengeluarkan busa. Karena kudanya mogok, maka Daeng mencari sumber air dan tempat yang teduh agar kudanya bisa istirahat, lalu dapat meneruskan perjalanan. Akhirnya mereka bertiga menggali sumur yang lebarnya 5 kali sumur biasa untuk mencari sumber air, setelah memberikan uang sewa pada pemilik lahan, yang bernama Raden Atang Sumirat. Semenjak terciptanya sumur itu, maka banyak para pejalan kaki dan perantau datang mampir untuk sekedar tiduran dan beristirahat disekitar sumur itu. Awalnya sumur yang merupakan mata air langsung dari sumbernya di gunung Arjuna – Pandaan itu belum memiliki nama. Setelah beberapa orang melihat terdapat seekor belut besar yang hidup didalamnya, maka ramailah orang menyebutnya Sumur Welut. Konon walau musim kemarau, sumur itu tak pernah kering dan dipercaya membawa berkah bagi yang meminumnya. Pada tahun 2011, warga desa Sumur Welut membuat 3 situ/belong yang difungsikan untuk memelihara ikan mas, yang konon bisa bersuara seperti manusia untuk mengucapkan kata maturnuwun (terimakasih) saat selesai diberi makan oleh para pengunjungnya. Situ paling besar disebut Situ Meong dan 2 lainnya yang lebih kecil disebut Situ Kembar.


Upacara Siram Sepuh
Upacara memandikan perempuan tertua atau pini sepuh pepunden desa sekitarnya. Direncanakan dilaksanakan setiap tahun sekali menyambut tahun baru Jawa, 1 suro.

2 komentar: